MENGKHAWATIRKAN YANG SUDAH DIJAMIN, MELALAIKAN YANG BELUM TERJAMIN
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada satu ironi yang sering terjadi dalam kehidupan kita.
Kita begitu sibuk mengkhawatirkan sesuatu yang sebenarnya telah Allah jamin, tetapi justru lalai terhadap sesuatu yang belum ada jaminannya.
Kita cemas tentang rezeki...
Takut tidak memiliki pekerjaan.
Takut penghasilan berkurang.
Takut tidak mendapatkan jodoh.
Padahal semua itu telah Allah tetapkan jauh sebelum kita dilahirkan.
Rezeki, jodoh, usia, dan kematian telah ditulis oleh Allah. Ketetapan itu tidak akan tertukar dan tidak akan meleset sedikit pun dari apa yang telah Dia kehendaki.
Allah ﷻ berfirman:
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
(QS. Hūd: 6)
Jika seekor burung yang berangkat pagi dalam keadaan lapar lalu pulang dengan perut kenyang dijamin rezekinya oleh Allah, mengapa kita yang diberi akal, tenaga, dan berbagai nikmat justru begitu takut seolah-olah Allah akan menyia-nyiakan hamba-Nya?
Bekerja dan berusaha adalah kewajiban.
Namun jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat kita mengabaikan kewajiban yang jauh lebih besar, seperti shalat, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, dan menaati Allah.
Karena rezeki memang harus dijemput dengan ikhtiar, tetapi hasilnya tetap berada di tangan Allah.
Yang lebih patut kita khawatirkan justru adalah sesuatu yang belum dijamin...
Bagaimana akhir hidup kita?
Apakah kelak kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah atau sebaliknya?
Apakah amal kita cukup untuk menghadap Allah?
Apakah kita termasuk penghuni surga atau justru sebaliknya?
Inilah masa depan yang sesungguhnya.
Banyak orang rela bersusah payah demi masa depan dunia.
Mereka belajar bertahun-tahun agar diterima di sekolah terbaik.
Mereka bekerja tanpa mengenal lelah demi karier, rumah yang nyaman, dan kehidupan yang mapan.
Semua itu tidak salah.
Namun, alangkah ruginya jika seluruh tenaga dicurahkan untuk masa depan yang hanya sementara, sementara masa depan yang kekal justru dipersiapkan seadanya.
Bukankah kehidupan dunia hanyalah persinggahan?
Sedangkan akhirat adalah negeri yang abadi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah."
(HR. Tirmidzi)
Maka, marilah kita mulai lebih sering mengevaluasi diri.
Sudahkah shalat kita semakin baik?
Sudahkah Al-Qur'an menjadi teman harian kita?
Sudahkah kita memperbanyak amal saleh sebagai bekal perjalanan yang tidak mungkin bisa kita hindari?
Jangan menunggu usia tua untuk mempersiapkan akhirat.
Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan menjemput.
Bisa jadi hari esok masih menjadi milik kita.
Bisa jadi justru hari ini adalah kesempatan terakhir untuk beramal.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang tidak hanya sibuk mengejar dunia, tetapi juga bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya tanpa hisab. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn. 🤲
Postingan L R. Yohana

0 Response to "MENGKHAWATIRKAN YANG SUDAH DIJAMIN, MELALAIKAN YANG BELUM TERJAMIN"
Post a Comment